Thursday, April 14, 2016

Apa Salahnya?

Terkadang kita merasa serba salah.
Kita merasa apa yang kita ucapkan itu menyakiti orang lain, kita merasa apa yang kita pikirkan akan kejadian, kita merasa apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, bahkan ada dari kita yang merasa gagal bahkan sebelum mencoba.
Tapi, apa salahnya?

Apa salahnya kita menyakiti orang lain, jika kita bisa belajar menyayangi setelahnya?
Apa salahnya kita mengalami hal-hal buruk seperti pikiran kita, bila kita dapat mengantisipasi kejadian itu setelahnya?
Apa salahnya apa yang kita harapkan tidak terwujud, bukankah segala sesuatu sudah diatur oleh Allah, dengan skenario terindah-Nya?
Apa salahnya kita mencoba, sebelum menentukan kita gagal atau sukses? Darimana kita tahu hasilnya bahkan sebelum kita memulai? Jangan menerka takdir Allah, karena kita tidak pernah tahu kemana jalan ini akan membawa kita.

Jangan terlalu banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dijalani saja dulu, ambil hikmah sebanyak-banyaknya. Tetap ikhtiar dan tawakkal.

Sejauh apapun kapal berlayar, seperti apapun persiapan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari, tetap saja laut itu ganas. Laut itu tak terkendali. Hanya pencipta-Nya lah yang dapat mengendalikan, selembut apa ombak itu akan bergolak, secepat apa angin itu akan mendorong, dan sejauh apa kapal itu akan berlayar. Disertai dengan usaha para awak kapal yang gigih dan kepercayaan mereka kepada Allah lah, kapal itu dapat tiba di tujuan dengan selamat tak kurang suatu apapun, bahkan diberi kenangan-kenangan indah serta pengalaman berharga yang tidak mereka harapkan sebelumnya, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Apabila suatu jalan itu tidaklah mudah, bisa jadi hasilnya juga tidak murah.

Apa salahnya? Toh, hakikat di dunia ini tidak ada yang benar-benar benar.

Friday, November 27, 2015

Buka atau Tutup

Awali hari dengan membuka mata
Benarkah kau membuka mata?
Karna kau bersikap seakan tidak
Apa kau melihat langit yang biru,
Rumput yang hijau,
Jalanan yang abu-abu,
dan suasana yang kelabu?

Melangkah lagi matahari lebih tinggi
Terdengarlah suara pintu dibuka,
Buku ditutup alat tulis diletakkan,
Langkah kaki ramai menuju dunia
Meninggalkan ruang kecil itu
Benarkah kau mendengar?
Lalu bagaimana dengan suara itu,
Suara yang kecil
Sangat kecil
Di pojok ruang kecil yang kau tinggalkan
Menuju duniamu masing-masing

Bukankah mata kalian tertutup,
Telinga kalian pun juga

Bukan suasana kelabu yang kuinginkan
Namun suasana baru
Yang akan menjadi haru
Dikala waktu memisahkan kita

Bukan kasak-kusuk maupun bisak-bisik
Di tiap kursi yang ingin kudengar
Namun canda tawa menggelegar
Yang dibunyikan kita dalam ruang kecil itu
Yang akan terekam di memori kita
Kala tak ada lagi waktu yang mempersatukan

Namun apa dayaku,
Satu sosok yang berdiri dikelilingi benteng-benteng raksasa
Yang berbeda-beda di dalam ruang yang sama
Terlalu kokoh untuk dihancurkan
Terlalu tinggi tuk dilanjutkan

Mata, telinga tertutup
Mungkin raga masih sanggup
Mungkin bibir dapat mengucap
Namun apalagi artinya dikala
Mata tak lagi melihat
Telinga tak mendengar

Saat ini kuhanya bisa berharap dan berdoa
Semoga ada dua hal lagi
Yang tak kau tutup selain tubuhmu
Yaitu hatimu dan otakmu

Semoga hatimu masih tetap dapat merasa
Otakmu dapat mencerna
Karena apabila sampai akhirnya
Hati dan otakmu tak dapat berfungsi
Untuk apa kau jejakkan kaki?