Thursday, October 26, 2017
Diandalkan atau Mengandalkan?
(sumber : kbbi.web.id)
Di-andal-kan atau meng-andal-kan. Mana yang lebih sulit?
Diandalkan berarti seseorang atau orang lain mempercayai kita. Sebaliknya, mengandalkan berarti kita mempercayai orang lain.
Menurut pendapat pribadi, 'andal' bisa jadi sebuah 'amanah' dan itu juga merupakan beban yang dipikul tidak hanya di dunia, namun juga akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Semua yang tersusun dari kata andal adalah hal yang tidak mudah karena berhubungan dengan orang lain. Tanggung jawab. Akhirat. Membayangkannya saja sudah merinding.
Namun hal diandalkan-mengandalkan ini juga tidak dapat dihindari. Sudah sewajarnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Sudah sewajarnya dalam suatu kelompok terdapat pemimpin yang paling bertanggung jawab, orang yang paling diandalkan di kelompok tersebut. Itu sudah hukum alam.
Yang menjadi masalah, tidak semua orang yang diandalkan, bisa jadi ia tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Tidak semua orang yang mengandalkan, dapat menahan rasa kecewa itu.
Tidak jarang aku merasa bimbang, ingin diandalkan tapi banyak keraguan. Ingin mengandalkan, tapi apa harus bergantung terus?
Dan yang lebih menakutkan lagi adalah kecewa. Baik mengecewakan ataupun dikecewakan adalah hal yang tidak enak. Hal yang paling ingin kuhindari. Jika harus memilih, aku lebih memilih dikecewakan. Aku benar-benar tidak ingin mengecewakan orang lain. Namun disisi lain, mengecewakan bisa jadi adalah opsi yang lebih baik, karena ia telah berusaha untuk tidak mengecewakan. Sedangkan orang yang dikecewakan hanya berharap saja. Yah, sebenarnya tidak salah seutuhnya, toh mempertahankan harapan juga butuh usaha yang tak kalah besar. Hehe. Namun untuk saat ini, itulah yang ada di benakku.
Menjadi diandalkan maupun mengandalkan, semuanya adalah pilihan kita. Silahkan memilih. Kita hidup dengan memiliki hak untuk memilih. Apapun yang kita pilih, semoga itulah yang terbaik. Dalam menentukan setiap pilihan, jangan lupa sertakan Allah di hatimu, ucapkan Basmallah di benakmu, niatkan Allah untuk pilihanmu. Teruslah yakin, bahwa Allah mengerti yang terbaik untukmu.
Selamat diandalkan dan mengandalkan, kawan! Jangan pernah merasa sendiri, apalagi di saat lelah. Selalu ingat ada tanah untuk bersujud, ada langit untuk menyimpan doa.
Tak apa lelah, asalkan lillah! Aamiin...
Friday, November 27, 2015
Buka atau Tutup
Awali hari dengan membuka mata
Benarkah kau membuka mata?
Karna kau bersikap seakan tidak
Apa kau melihat langit yang biru,
Rumput yang hijau,
Jalanan yang abu-abu,
dan suasana yang kelabu?
Melangkah lagi matahari lebih tinggi
Terdengarlah suara pintu dibuka,
Buku ditutup alat tulis diletakkan,
Langkah kaki ramai menuju dunia
Meninggalkan ruang kecil itu
Benarkah kau mendengar?
Lalu bagaimana dengan suara itu,
Suara yang kecil
Sangat kecil
Di pojok ruang kecil yang kau tinggalkan
Menuju duniamu masing-masing
Bukankah mata kalian tertutup,
Telinga kalian pun juga
Bukan suasana kelabu yang kuinginkan
Namun suasana baru
Yang akan menjadi haru
Dikala waktu memisahkan kita
Bukan kasak-kusuk maupun bisak-bisik
Di tiap kursi yang ingin kudengar
Namun canda tawa menggelegar
Yang dibunyikan kita dalam ruang kecil itu
Yang akan terekam di memori kita
Kala tak ada lagi waktu yang mempersatukan
Namun apa dayaku,
Satu sosok yang berdiri dikelilingi benteng-benteng raksasa
Yang berbeda-beda di dalam ruang yang sama
Terlalu kokoh untuk dihancurkan
Terlalu tinggi tuk dilanjutkan
Mata, telinga tertutup
Mungkin raga masih sanggup
Mungkin bibir dapat mengucap
Namun apalagi artinya dikala
Mata tak lagi melihat
Telinga tak mendengar
Saat ini kuhanya bisa berharap dan berdoa
Semoga ada dua hal lagi
Yang tak kau tutup selain tubuhmu
Yaitu hatimu dan otakmu
Semoga hatimu masih tetap dapat merasa
Otakmu dapat mencerna
Karena apabila sampai akhirnya
Hati dan otakmu tak dapat berfungsi
Untuk apa kau jejakkan kaki?